logo
Ekonomi & UMKM

Dari Jalur Lama ke Gerbang Tol, Kisah Nasir Mengembangkan Usaha Oleh-Oleh Khas Aceh di Padang Tiji

thor

Kontributor SIPIDIE

Senin, 13-07-2026 (09:31)
1.686 Dilihat
Dari Jalur Lama ke Gerbang Tol, Kisah Nasir Mengembangkan Usaha Oleh-Oleh Khas Aceh di Padang Tiji

PIDIE – Beroperasinya Jalan Tol Sigli–Banda Aceh (Sibanceh) mengubah kebiasaan perjalanan masyarakat. Banyak kendaraan yang sebelumnya melintasi jalan nasional kini beralih menggunakan jalan tol. Perubahan itu memang berdampak pada sebagian pelaku usaha di jalur lama, namun tidak bagi Nasir (48). Ia justru melihat perubahan tersebut sebagai peluang untuk mengembangkan usahanya.


Pemilik Warung Keripik dan Cafe Kutaraja Premium itu memindahkan lokasi usahanya dari kawasan Sare ke Kecamatan Padang Tiji pada 2025. Lokasi baru yang berada di tepi Jalan Raya Medan–Banda Aceh, tepat sebelum pintu masuk Tol Padang Tiji, kini menjadi tempat persinggahan favorit para pengendara.


Nasir mengaku keputusan tersebut diambil setelah melihat jumlah pelanggan di lokasi lamanya terus menurun sejak jalan tol mulai beroperasi. Banyak kendaraan memilih jalur tol sehingga aktivitas ekonomi di sepanjang jalur lama ikut berkurang.


Melihat kondisi itu, ia membeli sebidang lahan di Padang Tiji pada April 2025 dan membangun warung yang lebih representatif, lengkap dengan area parkir yang luas agar nyaman bagi pengunjung.


Keputusan tersebut ternyata membawa hasil yang menggembirakan. Kini, kendaraan pribadi, bus wisata, hingga rombongan keluarga kerap singgah untuk beristirahat sambil menikmati kopi dan membeli oleh-oleh khas Aceh sebelum melanjutkan perjalanan.


Warung Keripik dan Cafe Kutaraja Premium menawarkan beragam produk khas Aceh, mulai dari keripik ubi, dodol, tape, hingga berbagai kue tradisional. Di antara semua produk tersebut, keripik ubi masih menjadi primadona yang paling banyak dicari pelanggan.


Untuk memenuhi tingginya permintaan, Nasir mengolah sekitar satu ton ubi setiap hari. Meski lokasi usahanya telah berpindah, proses perendaman ubi masih dilakukan di Sare karena dinilai mampu menghasilkan keripik yang lebih renyah dengan cita rasa yang tetap terjaga.


Selain keripik, tape juga menjadi produk unggulan lainnya. Susi (44), istri Nasir, mengatakan proses pembuatannya masih menggunakan cara tradisional dengan memanfaatkan air dari Sare agar kualitas rasa tetap konsisten seperti yang telah dikenal pelanggan selama bertahun-tahun.


Perkembangan usaha tersebut turut memberikan manfaat bagi masyarakat. Saat ini lebih dari 20 orang bekerja di Warung Keripik dan Cafe Kutaraja Premium, sebagian besar merupakan karyawan yang ikut pindah dari lokasi usaha sebelumnya.


Bagi Nasir, memindahkan usaha bukan semata-mata untuk mempertahankan bisnis, tetapi juga menjaga agar para pekerjanya tetap memiliki penghasilan.

Perubahan arus lalu lintas akibat hadirnya Jalan Tol Sibanceh juga mulai menghidupkan kawasan Padang Tiji. Sepanjang Jalan Raya Medan–Banda Aceh kini bermunculan toko oleh-oleh dan warung yang menjual berbagai produk khas Aceh, menjadikan kawasan tersebut sebagai salah satu titik persinggahan baru bagi para pelintas.


Kisah Nasir menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu menghadirkan kerugian. Dengan membaca peluang, berani mengambil keputusan, dan tetap menjaga kualitas produk, ia berhasil mengubah tantangan menjadi kesempatan untuk mengembangkan usaha sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar.


SIPIDIE akan terus menghadirkan informasi resmi mengenai pelayanan publik, pembangunan, dan potensi desa di Kabupaten Pidie sebagai bagian dari upaya mendukung keterbukaan informasi kepada masyarakat.

Dapatkan Update Berita Langsung

Berlangganan newsletter mingguan kami untuk mendapatkan rangkuman berita penting seputar Kabupaten Pidie langsung ke email Anda.